Toko Buku Online

SELAMAT DATANG!!!
Hadir dengan informasi pendidikan, kewarganegaraan, seputar guru, pembelajaran, artikel dan penelitian (PTK). Bagi siswaku, web ini merupakan papan tulis online, bagi rekan guru: take and give. Selamat Belajar!!!
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Mei 2013

KEBANGKITAN NASIONAL, BANGKIT DARI SEGALANYA

Menyimak arti kebangkitan nasional, mengingatkan kita, bahwa saat ini saatnya kita bangkit dari segalanya. mengingat keterpurukan bangsa kita terjadi dalam setiap lini kehidupan, sosial, ekonomi, budaya, ideologi, politik dan hukum. (Baca tulisan lainnya disini.....)

Bagi bangsa kita, 105 tahun yang lalu meninggalkan kesan yang penuh makna. Hari ini 20 Mei 2013 kita mencoba mengingat kembali perjuangan Dr. Soetomo dan Wahidin Sudirohusodo. Saat itu penjajahan kolonial Belanda membuat bangsa kita lemah, tak berdaya, tekan dan tertindas. Sangat menderita. Namun para cendekia tersebut sadar, pendidikan yang dia raih harus digunakan untuk membangkitkan semangat, bangkit semangat persatuan dan kesatuan serta bangkit semangat perjuangan, maka didirikanlah organisasi Boedi Oetomo pada tanggal ini 105 tahun yang lalu. 

Mewarisi semangat Boedi Oetomo, mari kita lihat bangsa kita saat ini. Bangsa kita seolah bercerai-berai. Setiap hari kita dan anak-anak menyaksikan diberbagai mas media berita-berita yang tidak sedap kita rasakan. Tindakan korupsi-kolusi-nepotisme (KKN), kerusuhan, demonstrasi-anarkis, penindasan, berbagai aneka kejahatan, perilaku abnormal saudara kita, narkoba, penggusuran, kemiskinan dan berita-berita tidak enak lainnya. Semua itu menjadikan bangsa kita terbingkai dalam mesemrawutan, ketidakjujuran, kemiskinan dan kebodohan. MasyaAllah!

Satu sisi hal tersebut menyentuh hati kita untuk membangkitkan semangat menolong sesama, sisi lain ini merupakan gambaran bahwa bangsa kita lama-lama semakin bercerai-berai. Satu-satunya yang bisa mewujudkan tekad kita adalah adanya rasa kebangkitan nasional. Untuk inilah saat ini kita memperingatinya. Didepan gerbang sekolah terpampang slogan "......Kebangkitan Nasional". Hendaknya bukan hanya slogan yang kita buat, tapi perilaku dan hati kita segera bangkit, enyah dari semua itu.

Siapa yang harus bangkit? Setidaknya ada 4 pilar utama yang dapat menjadikan kebangkitan ini berarti dalam kehidupan. Pertama, keluarga. Keluarga kita adalah yang utama dan pertama terjadinya interaksi sosial yang bermakna. Setiap keluarga menata diri, menilai diri, dan bertindak menjaga keutuhan. Orang tua (Bapak-Ibu) dan anak saling menjalin komunikasi yang baik. Orang tua bertindak jujur, sehingga anak-anak akan tertanam karakter jujur. Kedua, sekolah. Sebuah lembaga pendidikan yang punya visi dan misi, segenap komponen sekolah menjunjung tinggi tujuan pendidikan nasional, lebih khusus tujuan sekolah kita masing-masing. Mengedepankan etos belajar yang tinggi, menjunjung keadilan pendidikan dengan berperilaku jujur, tanggung jawab, teladan yang baik serta anak-anak harus memeluk erat sportifitas belajar. Contohnya tidak saling bertukar jawaban ketika ulangan harian, malu jika mendapatkan nilai rendah. Semua itu akan dapat membingkai kita secara otomatis dalam kebangkitan pendidikan kita. Ketiga, Masyarakat. Komponen yang luas menyajikan aneka pengaruh, baik ataupunburuk. Namun perilaku buruk tersaji dalamkehidupan kita. Manakala ini terjadi, cepatlah kita bertindak dengan nurani kejujuran dan kebenaran. Belajar dari lingkungan adalah penting, mengingat kita terlibat di dalamnya. Mengedepankan akal dan fikiran sebagai langkah utama menghadapi dinamika masyarakat yang dinamis dan berkembang. Tidak mudah terprofokasi bila melihat suatu peristiwa sebelum mengetahui yang  sebenarnya. Bertindak prefentif akan lebih baik dari kuratif. Keempat, Pemerintah. Pemerintah sebagai unsur birokrasi harus dapat membangun citra, mengingat selama ini kinerja birokrasi mendapat nilai rendah di hati kita. Melayani dan meminta pelayanan yang bertanggung jawab adalah kuncinya. Sehingga terhindar dari budaya KKN sebagaimana berkembang pada akhir-akhir ini. Sebagai pribadi hendaknya kita tidak terlarut dalam nuansa ini. Satu menyulut, lainya akan terbakar dan tersebar.

Empat komponen utama di atas bila masing-masing akuntabel dalam menjalankan fungsi dan perannya, maka kebangkitan nasional akan menjadi momentum berarti dan bangsa kita semakin maju berkembang dengan penuh peradaban. Semoga.

Senin, 08 April 2013

GALAU UJIAN NASIONAL

Polemik penyelenggaraan ujian nasional yang digelar pemerintah dan merupakan agenda rutin tiap tahun seolah tiada henti. Pro dan kontra penyelenggaraan menempati top list berbagai media. Bahkan tempo hari salah satu pewarta visual Al-Jazeera, sebuah stasion TV internasional juga turut memberitakan. Mengapa ini terjadi? 

LEMBAGA PENDIDIKAN KITA BELUM SIAP KOMPETISI
Ketika diberi akronim EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) tidak ada polemik pro dan kontra. Karena sentralisasi pemerintahan, dan kran demokrasi belum terbuka lebar. Sistem evaluasi tersebut pada jamannya sangat manjur menentukan prestasi hasil belajar, karena iklim kompetisi dan besarnya motivasi belajar. Setelah kran demokrasi terbuka, mulailah dibicarakan soal efektifitas penyelenggaraan ujian nasional untuk mengukur prestasi siswa dalam dekade jenjang masing-masing. Kini, setelah berubah nama dan konsep penyelenggaraan menjadi UN (Ujian Nasional) sorotan publik semakin santer dan kencang. Mengapa? Karena kita belum siap kompetisi. Buruknya kinerja pemerintah membuat lembaga pendidikan semakin berani mencari akal meningkatkan kualitas dengan cara-cara unsportif. Disebabkan kualitas masih diukur secara kuantitatif. Akibatnya terjadi kompetisi yang tidak sehat dan memperburuk kualitas pendidikan. Besar dikuantitas, minim di kualitas.
Andai Lembaga pendidikan kita siap kompetisi, sebenarnya alasan apapun dari tujuan penyelenggaraan ujian nasional akan membuahkan manfaat. Peta penyebaran kualitas pendidikan dalam rangka memberikan pelayanan standar seperti yang dirumuskan SNP akan semakin terwujud. 
Belum siap kompetisinya lembaga pendidikan salah satu sebab adalah rendahnya kualitas tenaga edukatif. Kualitas pendidik yang rendah menyebabkan proses pembelajaran tidak optimal. 
Untuk mendongkrak iklim kompetisi itulah, maka menurut hemat saya UN terus diadakah, selain sebagai tolok ukur untuk menandai bahwa anak didik telah menuntaskan masa pendidikan disuatu jenjang yang dilakoninya. Klaim pemerintah bahwa UN untuk pemetaan sangat beralasan untuk tujuan tersebut. Jika penyelenggaraan UN dijiwai dengan semangat kejujuran, maka 2 dampak positif akan dihasilkan. Pertama, dengan pemetaan yang didapat, dapat diketahui signifikansi antara nilai rendah dengan kualitas pembelajaran yang rendah (baca tenaga pendidik rendah). Kedua, pemetaan juga dapat dibaca dan disimpulkan angka pertisipasi pendidikan suatu daerah rendah atau tinggi. Dua hal ini saya rasa cukup bermanfaat.

GALAU?
Tentu saja. Siapnya lembaga kita baru tahap administrasi, karena ada pedomannya. Tetapi secara proses, sebagai objek pelaksanaan UN kita belum siap. Munculah kegalauan berbagai elemen penyelenggara. Dengan mekanisme dan teknik penyelenggaraan yang semakin ketat, akal-akalan menyiasati hasil semakin sulit. Ini artinya jika suatu saat proses terjadi, maka dapat dibayangkan betapa malunya jika suatu lembaga pendidikan siswanya banyak tidak lulus. Prestise akan turun, nilai jual lembaga pendidikan semakin rendah. Hal ini tidak menguntungkan dari sisi "bisnis" lembaga. Lantas sikap galau tersebut disiasati dengan berbagai strategi. Strategi apa untuk suksesi penyelenggaraan, akan kita ketahui bila selesai dievaluasi oleh lembaga yang berwenang.
Kegalauan mestinya tidak akan terjadi, andai setiap lini dan elemen penyelenggara siap secara administrasi dan substansi. Sebenarnya yang paling pokok adalah substansi, karena menunjukkan kinerja sistem lembaga mulai dari manajemen lembaga, proses belajar mengajar, evaluasi dan tiandak lanjut. Substansi menunjukkan potret sejauh mana suatu lembaga menyelenggarakan peroses pendidikan yang baik.

KOMPENSASI KETIDAKMAMPUAN
Kontra, adalah sebuah sikap yang boleh. Sebagai peng-aku-an adanya hak berpendapat. Dan dijamin oleh pasal 28 UUD NRI 1945. Tetapi kontra hendaknya dilandasi rasa tanggung jawab. Jika tidak mampu menunjukkan tanggung jawab, maka kontra akan dinilai sebagai sikap kompensasi karena ketidakmampuan seseorang.
Sikap kontra terjadi pada penyelenggaraan UN tiap tahun, karena prinsipnya ogah repot-repot, tapi ingin dapat hasil yang baik. Sehingga ketika penyelenggaraan semakin ketat, sikap kontra semakin menjadi-jadi. Kejujuran tersembunyi yang tidak diungkapkan karena sebenarnya kita tidak mampu memenuhi standar kelulusan.

DAFTAR PANJANG KEBOBROKAN
Mari kita cermati kesalahan sistem kita berangkat dari diri kita sendiri. 
Akuilah bahwa kita tidak mampu/kurang kualitas. Mengajar kita belum optimal, prinsip paedagogis yang kita terapkan amburadul, proses belajar mengajar disibukkan urusan diluar tugas, evaluasi belajar tidak kita ikuti dengan tindak lanjut, baik hanya dinilai dari sisi administrasi.
Berbagai evaluasi dari atasan disiasati dengan kolusi dan nepotisme, memberikan pelayanan yang baik termasuk memberi sangu banyak, agar tidak dinilai buruk. Bim-salabim pokok laporan evaluasi bagus.
Berbagai kegiatan pengembangan diri juga tak lepas dari kecurangan. Anggapan menghabiskan anggaran, menimbulkan jiwa tidak serius, pokok diselnggarakan habis perkara yang penting laporannya. Waktu penyelenggaraan 7 hari disunat menjadi 5 hari. Klop, sama senangnya, peserta senang, penyelenggara untung. 
Kegiatan sosialisasi, desimenasi atau apapun namanya syarat dengan ketidakseriusan. Akibatnya waktu terbuang, tugas utama mengajar ditinggalkan demi sebuah pengembangan diri.

Sampai kapanpun jika ruh penyelenggara seperti itu tidak akan membuahkan hasil. Sekarang tinggal personalisasi mutu, introspeksi diri. Mudah-mudahan kedepan lebih clear,bersih dan wangi pendidikan kita.

Selasa, 19 Maret 2013

ANAK BERMAIN DI LUAR RUMAH, BERMANFAATKAH?

Sahabat pembaca, apa kabar? Lama saya tidak share artikel. Kini sebuah artikel tentang anak-anak kita. Mengapa anak? Anak adalah sebuah pelita hati, tautan kasih sayang dan harapan keluarga, bangsa dan Negara. Dari itu maka anak-anak kita harus berkembang sesuai tugas-tugas perkembangan yang lazim. Untuk itu rasanya sedih jika kita melihat masih ada anak-anak kita yang terpasung oleh keinginan orang tua yang terlalu membelenggu. 
Belenggu anak adalah ketika jiwa eksplorasi sesuai tugas perkembangannya terkendala karena orang tua terlalu “kasihan” dan “eman” pada anaknya jika bermain di luar rumah. Anak perlu eksplorasi mengenal dunianya, tentu dengan pengawasan. Pengawasan bukan membelenggu dan memproteksi, tapi berfungsi mengarahkan bila ada sesuatu yang ekstrim. Mengapa saya sangat menganjurkan anak bermain di luar rumah? Dan apa manfaatnya? 
Dari sebuah artikel yang saya baca menyarankan, agar jangan sekap anak di dalam rumah terus-menerus. Sebuah penelitian di 55 sekolah di Sydney, Australia menemukan, anak-anak yang menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah cenderung memiliki lebih kecil peluang terkena rabun jauh.
Rabun jauh alias miopia semakin menjadi umum terjadi dalam beberapa dasawarsa terakhir. Banyak kita temukan anak-anak berkacamata minus. Penelitian baru dari University of Sydney mengungkap bahwa faktor seperti membaca jarak dekat dan belajar intensif bisa mengarah individu pada miopia. Tapi, bermain di luar rumah bisa membantu anak melindungi dari pengaruh rabun jauh ini. 
Para peneliti meneliti 1.765 anak berusia enam tahun dan 2.367 anak berusia 12 tahun. Hanya 1,5 persen dari anak usia enam tahun yang myopi, tapi 12,8 persen pada anak yang lebih besar. Kedua kelompok usia itu menghabiskan sekitar 2,3 jam di luar rumah tiap harinya. 
Faktor waktu yang digunakan di luar tidak berhubungan secara signifikan dengan prevalensi myopia di antara anak usia enam tahun. Begitu juga jumlah kegiatan yang menggunakan jarak pandang dekat yang mereka lakukan.Tapi, lain halnya di antara anak usia 12 tahun. Mereka yang setiap harinya menghabiskan waktu lebih dari 2,8 jam di luar umumnya cenderung lebih sedikit yang terkena miopia ketimbang teman mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan. 
Anak-anak yang setiap harinya menghabiskan waktu kurang dari 1,6 jam di luar dan lebih dari 3,1 jam melakukan kegiatan dengan jarak pandang dekat berpeluang 2-3 kali menderita rabun jauh dibandingkan anak yang melakukan kegiatan berlawanan. Yakni, anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya di luar dan sedikit waktu berkegiatan dengan jarak pandang dekat. Para peneliti masih belum jelas tentang penjelasan secara pasti tentang kaitan berada di luar bisa melindungi mata. Tapi, mereka percaya pemaparan pada sinar matahari berefek memelihara pengeluaran dopamin yang dikenal melambatkan pertumbuhan mata. Miopia disebabkan pertumbuhan mata secara berlebihan. 
Dr Kathryn Rose, dari fakulitas sains kesehatan University of Sydney mengatakan, hasil penelitian itu sejalan dengan sebuah studi di AS yang menemukan olahraga outdoor bersifat protektif. ''Kendati begitu, penelitian kami menunjukkan bahwa hal yang krusial adalah berada di alam terbuka, apa pun kegiatan yang Anda lakukan,'' kata Dr Rose. ''Hasil kami menunjukkan bahwa efek protektif berada di luar terus ada bahkan bila anak melakukan banyak pekerjaan dengan pandangan dekat seperti membaca dan belajar.'' 
Dari hasil penelitian yang mereka peroleh, para peneliti pun memberikan saran pada orangtua. Agar meyakinkan anak melakukan sesuatu di luar, karena sudah mempunyai bukti bahwa lebih banyak waktu yang mereka lakukan di luar, kurang kecenderungannya mereka terkena myopia. Tapi jangan lupa memberikan atribut pelindung pada anak, seperti kaos lengan panjang, sandal dan topi anak. Pemerintah seharusnya mengencarkan promosi kegiatan outdoor bagi orangtua dan keluarga, dan termasuk kurikulum di luar ruangan dalam porsi lebih banyak bagi sekolah, bisa menjadi ukuran kesehatan publik. Ini penting untuk menghindari perkembangan myopia. 
Kini kurikulum kita juga menjangkau kegiatan outdor, tatapi jadual yang tidak terlalu diperhitungkan kurang memberikan efek, justru sifat komersialnya yang ditonjolkan dengan naik kendaraan. Jadi walaupun berbunyi outdor masih berkutat dalam kendaraan. Saran saya, outdor tidak harus jauh, cukup disekitar saja, yang penting kegiatan itu bermakna bagi anak-anak. 
Pengalaman waktu kecil dulu, ketika hidup di desa, begitu berkesan. Lingkungan dekat persawahan dengan perbatasan perkebunan membuat nuansa alam begitu menantang untuk dieksplorasi. Saya mengalami itu.

Senin, 14 Januari 2013

MENTERI PENDIDIKAN DARI MASA KE MASA

No
Nama
Periode
1
Ki Hadjar Dewantara
Menteri Pengajaran Kabinet Presidentil
Periode : 19 Agustus – 14 November 1945
2
Dr.Mr.T.S.G. Mulia
Menteri Muda Pengajaran Kabinet Syahrir I
Periode : 14 November 1945 – 12 Maret 1946
Menteri Muda Pengajaran Kabinet Syahrir II
Periode : 12 Maret – 2 Oktober 1946
3
Mohammad Sjafei
Menteri Pengajaran Kabinet Syahrir II
Periode : 12 Maret – 2 Oktober 1946
4
Mr. Suwandi
Menteri Pengajaran Kabinet Syahrir III
Periode : 2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947
5
Ir.R. Gunarso
Menteri Muda Pengajaran Kabinet Syahrir III
Periode : 2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947
6
Mr. Ali Sastroamidjojo
Menteri Pengajaran Kabinet Amir Syarifuddin I
Periode : 3 Juni – 11 November 1947
Menteri Pengajaran Kabinet Amir Syarifuddin II
Periode : 11 November 1947 – 29 Januari 1948
Menteri PP dan K Kabinet hatta I
Periode : 29 Januari – 4 Agustus 1949
7
Mr. Teuku Moh. Hasan
Menteri PP dan K Kabinet Darurat
Periode : 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
8
S. Mangunsarkoro
Menteri PP dan K Kabinet Hatta II
Periode : 4 Agustus – 20 Desember 1949
Menteri PP dan K Kabinet Peralihan
Periode : 20 Desember 1949 – 21 Januari 1950
Menteri PP dan K Kabinet RI Yogyakarta
Periode : 21 Januari – 6 September 1950
9
Letjen TNI Dr. Teuku Syarif Thayeb
Menteri PTIP Kabinet Dwikora
Periode : 27 Agustus 1964 – 21 Febuari 1966
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan II
Periode : 27 Januari 1974 – 31 Maret 1978
10
Dr. Daud Joesoef
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan III
Periode : 31 Maret 1978 – 19 Maret 1983
11
Prof. Dr. Nugroho Notosusanto
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan IV
Periode : 19 Maret 1983 – 1985
12
Prof. Dr. Faud Hassan
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan IV
Periode : 30 Juli 1985 – 21 Maret 1988
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan V
Periode : 21 Maret 1988 – 17 Maret 1983
13
Prof. Dr. –Ing. Wardiman Djojonegoro
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan VI
Periode : 17 Maret 1993 – 17 Maret 1998
14
Prof. Dr. Wiranto Aris Munandar
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan VII
Periode : 17 Maret – 21 Mei 1998
15
Prof. Dr. Juono Soedarsono
Menteri P dan K Kabinet Reformasi
Periode : 21 Mei 1998 – 1 November 1999
16
Dr. Yahya Muhaimin
Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Persatuan Nasional
Periode : 1 November 1999 - 2001
17
Prof. Drs. A. Malik Fadjar, M. Sc.
Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Gotong Royong
Periode : 2001 – 21 Oktober 2004
18
Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA.
Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu I
Periode : 23 Oktober 2004 – 20 Oktober 2009
19
Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Bersatu II
Periode : 20 Oktober 2009 - Sekarang

STRUKTUR KURIKULUM 2013

Dalam teori kurikulum (Anita Lie, 2012) keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola pelaksanaan kurikulum --termasuk pembelajaran-- dan penilaian pembelajaran dan kurikulum.
Struktur kurikulum dalam hal perumusan desain kurikulum, menjadi amat penting. Karena begitu struktur yang disiapkan tidak mengarah sekaligus menopang pada apa yang ingin dicapai dalam kurikulum, maka bisa dipastikan implementasinya pun akan kedodoran.
iklan4-gbr1
iklan4-tabel1
iklan4-tabel2
Pada titik inilah, maka penyampaian struktur kurikulum dalam uji publik ini menjadi penting. Tabel 1 menunjukkan dasar pemikiran perancangan struktur kurikulum SD, minimal ada sebelas item. Sementara dalam rancangan struktur kurikulum SD ada tiga alternatif yang di mesti kita berikan masukan.

iklan4-tbl2 Di jenjang SMP usulan rancangan struktur kurikulum diperlihatkan pada tabel 2. Bagaimana dengan jenjang SMA/SMK? Bisa diturunkan dari standar kompetensi lulusan (SKL) yang sudah ditentukan, dan juga perlu diberikan masukan.
Tiga Persiapan untuk Implementasi Kurikulum 2013
ADA pertanyaan yang muncul bernada khawatir, dalam uji publik kurikulum 2013? Persiapan apa yang dilakukan Kemdikbud untuk kurikulum 2013? Apakah sedemikian mendesaknya, sehingga tahun pelajaran 2013 mendatang, kurikulum itu sudah harus diterapkan. Menjawab kekhawatiran itu, sedikitnya ada tiga persiapan yang sudah masuk agenda Kementerian untuk implementasi kurikulum 2013. Pertama, berkait dengan buku pegangan dan buku murid. Ini penting, jika kurikulum mengalami perbaikan, sementara bukunya tetap, maka bisa jadi kurikulum hanya sebagai “macan kertas”.
Pemerintah bertekad untuk menyiapkan buku induk untuk pegangan guru dan murid, yang tentu saja dua buku itu berbeda konten satu dengan lainnya.
Kedua, pelatihan guru. Karena implementasi kurikulum dilakukan secara bertahap, maka pelatihan kepada guru pun dilakukan bertahap. Jika implementasi dimulai untuk kelas satu, empat di jenjang SD dan kelas tujuh, di SMP, serta kelas sepuluh di SMA/SMK, tentu guru yang diikutkan dalam pelatihan pun, berkisar antara 400 sampai 500 ribuan.
Ketiga, tata kelola. Kementerian sudah pula mnemikirkan terhadap tata kelola di tingkat satuan pendidikan. Karena tata kelola dengan kurikulum 2013 pun akan berubah. Sebagai misal, administrasi buku raport. Tentu karena empat standar dalam kurikulum 2013 mengalami perubahan, maka buku raport pun harus berubah.
Intinya jangan sekali-kali persoalan implementasi kurikulum dihadapkan pada stigma persoalan yang kemungkinan akan menjerat kita untuk tidak mau melakukan perubahan. Padahal kita sepakat, perubahan itu sesuatu yang niscaya harus dihadapi mana kala kita ingin terus maju dan berkembang. Bukankah melalui perubahan kurikulum ini sesungguhnya kita ingin membeli masa depan anak didik kita dengan harga sekarang
(Sumber: http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-4 ]20 December 2012 11:38:07)

UJI PUBLIK KURIKULUM 2013 ( Tidak Menghapus Mata Pelajaran)

Ada kekhawatiran pada masyarakat jika Kurikulum 2013 diterapkan akan ada penghapusan beberapa mata pelajaran. Kekhawatiran ini dijawab Mendikbud Mohammad Nuh, bahwa tidak ada penghapusan mata pelajaran, yang ada hanya pengintegrasian mata pelajaran.
Mata pelajaran IPA dan IPS di sekolah dasar (SD) diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Pengintegrasian ini dilakukan karena penting, serta menyesuaikan zaman yang terus mengalami perkembangan pesat.
Hadirnya kurikulum baru bukan berarti kurikulum lama tidak bagus. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum 2013.
iklan3-gbr1
iklan3-gbr2
Gambar 1 dan gambar 2 menunjukkan kerangka komptensi abad 21 yang menjadi dasar di dalam pengembangan kurikulum 2013.
iklan3-gbr3
iklan3-gbr4
iklan3-gbr5
Ada empat standar dalam kurikulum yang mengalami perubahan, meliputi standar kompetensi lulusan, proses, isi, dan standar penilaian. Terhadap perubahan itulah maka rumusan standar kelulusan (SKL) pun berubah. Gambar 3 menunjukkan ruang lingkup SKL. Sedang gambar 4 dan gambar 5 berturut-turut tentang SKL Rinci dan SKL Ringkas (LPMP Jatim)

Senin, 07 Januari 2013

TEKNOLOGI INFORMASI DAN PERADABAN

Regenerasi sebuah bangsa bernilai peradaban. Peradaban bangsa bernilai cultur yang cakupannya lokal kebangsaan, artinya wajah bangsa ini sesungguhnya tak lepas dari nilai-nilai sosio-budaya, adat-istiadat dan kondisi global bangsa lainnya. Jika terjadi proses regenerasi, maka seharusnya esensi cultur harus tetap nampak dan dikenali.

Pengaruh besar diberikan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan sebagai wadah, sedangkan teknologi merupakan sarana memahami ilmu pengetahuan. Bila demikian, maka teknologi dominan dalam memberi pengaruh pada generasi bangsa. Didukung oleh perkembangan gengsi-teknologi, rasanya dunia ini sepi tanpa teknologi. IT (Teknologi Informasi) memberikan sumbangan terbesar dalam hal ini.

Perkembangan IT dari sisi soft maupun hard sungguh luar biasa. Dua keluarga multimedia itu seolah saling melengkapi dan bersahabat, saling adaptasi melengkapi satu dengan lainnya. Dari perkembangan soft teknologi saja tercatat tidak kurang dari 10 operating system memberi kontribusi akselerasi transformasi. Soft teknologi tersebut melengkapi keberadaan hard teknologi yang berkembang.

Lokalisasi peminat sungguh terarah dan terlengkapi, mulai dari yang sekedar punya hobi, sampai kalangan profesi. Dari usian manula sampai yang muda, semua turut serta dalam lingkaran IT. Dari sekian soft-teknologi yang mendunia saat ini adalah fungsi publikasi dari teknologi tersebut. Segmen ini ditanggapi serius. Para pakar berlomba memenuhinya dengan gratis. Mulai dari YM, Skype, Facebook, Twetter dan lainnya. Kehadirannya diadaptasi oleh perkembangan hard-soft, mulai windows, android, dan lainnya.

Dari sekian soft-teknologi yang paling populer adalah facebook dan tweeter. Facebook sangat dominan memberikan pengaruh. Karena berupa jejaring sosial. Dan adaftif bagi semua kalangan usia dan profesi. Jejaring sosial memberikan pengaruh luar biasa pada warna generasi bangsa di semua belahan dunia. Pranata sosial ikut terbawa dalam setiap arus jejaring ini. Multi kulture hampir sepenuhnya masuk dalam kancah maya. Dibaca, ditanggapi dan memberikan kontribusi pengaruh mentalitas trans-internasional.

Teknologi dan peradaban seolah seiring berjalan, peradaban manusia ditopang dengan keberadaan teknologi, padahal keduanya saling terpisah. Peradaban syarat dengan nilai (value) sosial dan humanisme, sementara teknologi bebas dari nilai.. Teknologi hanyalah sebuah alat sebagai media. Karena itu ada beberapa sikap yang mesti kita lakukan, adapun sikap yang perlu ditampilkan oleh manusia ketika menghadapi teknologi, yaitu:
  • Menerima secara totalitas (tanpa filterisasi)
  • Menerima dengan filterisasi
  • Menolak mentah-mentah
Dari ketiga sikap diatas, ada dua kutub ekstrim sikap penerimaan, yang satu menerima secara membabi  buta (totalitas),  dan yang satu lagi menolak mentah-mentah.
Sikap yang baik adalah dengan memilah-milah terlebih dahulu, manakah yang sesuai dengan nilai-nilai humanisme yang kita yakini dan mana yang tidak. Menghadapi seperti ini manusia harus memegang pedoman norma, paling utama norma agama. Maka apabila seorang ilmuan, engineer, mahasiswa, dan sebagainya, berpegang teguh dengan norma agama, maka teknologi yang dihasilkan niscaya berguna untuk semesta alam, rahmatan lil 'alamin. Di sekolah, guru PPKn berperan memahamkan hal seperti ini. (Tetuko JP)



Kamis, 03 Januari 2013

AKTIFITAS KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH

Menpresentasikan kegiatan kewarganegaraan disekolah belum dilakukan di Indonesia. Yang ada proses belajar dan eksplorasi lingkungan wiyata mandala, itupun sebatas kegiatan berlabel masa orientasi. Bagaimana menciptakan komunitas sekolah sebagai lingkungan biasa dan berkenan pada anak-anak?

Untuk itu sekolah dapat menawarkan siswa berbagai kesempatan untuk mengembangkan keterampilan mereka untuk berpartisipasi lebih lengkap dalam masyarakat dengan project action di sekolah. Di Bondowoso, sekolah favoritpun belum melaksanakan hal ini, sekolah favorit masyarakat tak ubahnya sebagai tempat yang terbatas dengan keunggulan. Sehingga potret kehidupan masyarakat umumnya tidak tercermin sama sekali. Tali RSBI ataupun apa bentuknya merefleksikan secriditas internal membuat takut masyarakat untuk memasukinya.

Dalam upaya untuk menciptakan pendekatan yang positif untuk warga lokal dan global (masyarakat umum), project masyarakat global bisa dimulai pada masa SMP yang seharusnya sudah dimulai sejak SD (usia 6 tahun). Sebagai ilustrasi kegiatan, setidaknya gambaran berikut ini menuntun pemikiran kita pada kegiatan tersebut:

Kegiatan ini bisa melibatkan OSIS maupun berdiri sendiri sebagai poject khusus sekolah, beri kesempatan pada beberapa siswa yang telah matang sosialnya memimpin kelompok sekitar 12-15 siswa dengan usia yang setara. Kemudian konseplah bentuk kegiatan yang bertemakan keterampilan social. Contohnya adalah mengumpulkan teman-temannya dalam kelompok tersebut, membantu dan merawat mereka yang sakit, membantu teman menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, menjadi tutor sebaya, mengadakan pembicaraan sekitar kesulitan teman-temannya, dan kegiatan sejenis itu. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman, sikap dan keterampilan untuk menjalani gaya hidup yang aman dan sehat, untuk mewujudkan potensi mereka sendiri dan memberikan kontribusi positif kepada kelompoknya (baca masyarakat sekolah)


Pola kegiatan tersebut dipantau (tidak usah dibimbing) dalam kegiatan tersebut hendaknya memperhatikan dan mengacu pada perspektif kesetaraan gender dan pendidikan multikultural. Kesetaraan gender dimaksudkan agar ada penghargaan pada gender yang akhir-akhir ini cenderung menurun. Peran gender sangat penting, untuk memperoleh kesepadanan peran social. Sedangkan pendidikan multicultural ditujukan untuk lebih memvariasikan jenis kegiatan tersebut. Pendidikan multicultural akan memahamkan pada anak tentang bagaimana proses pendidikan sebenarnya berjalan dengan latar masing-masing. Dengan memperhatikan 2 perspektif di atas, baik gender maupun pendidikan multicultural maka project ini akan memperoleh arti yang luar biasa bagi terwujudnya aktifitas kewarganegaraan yang direncanakan.

Masih berlanjut pada gambaran kegiatan di atas, dalam proses pelaksanaanya, pemimpin kelompok yang telah ditunjuk, dilatih di dua tempat pelatihan yang direncanakan. M
isalnya 2 hari kegiatan. Memperkuat kegiatan tersebut, hendaknya diberi pengukuhan peran pada masing-masing peserta. Contohnya dengan memberikan reinforcement berupa sertifikat.  Dalam proses, dihadirkan beberapa tokoh masyarakat, baik dari kalangan praktisi maupun birokrasi. Misalnya mengundang anggota DPR Kab. Bondowoso untuk acara pembukaanya. Diharapkan tokoh tersebut mampu menggugah peran kewarganegaraan siswa. Serta mampu menegaskan pentingnya kepemimpinan dan tanggung jawab dalam hidup berwarganegara. Birokrat yang diundang hendaknya dapat merefleksikan  makna kegiatan tersebut, pengalaman-pengalaman yang dimiliki, dan lainnya. 



Project tersebut dilaksanakan sepanjang masa belajar siswa. Kalau SMP berarti 3 tahun. Tiap tahun berjalan diadakan evaluasi dan tindak lanjut yang relevan. Peran masing-masing guru bidang studi dapat memberikan actualisasi nilai pada proses evaluasi tersebut. Tiap masa 1 tahun berjalan, pola hubungan ditingkatkan dengan mengembangkan hubungan yang lebih variatif, misalnya melibatkan multi usia sekolah. Gambaran progress akan menunjukkan pada peningkatan kepedulian dan tanggung jawab siswa. Demikian juga, anggota yang lain akan terlihat kepercayaan dan rasa hormat pada teman lainnya, harga diri siswa juga akan semakin meningkat seiring peran yang diberikan. Hasil lengkap pada tahun ke-3 ketika siswa hamper lulus dapat dilihat nilai positif dari tujuan kegiatan ini. 


Dampak kegiatan tersebut secara internal maupun eksternal dapat dirasakan. Secara internal, OSIS sebagai legal formalnya organisasi tingkat sekolah juga semakin meningkat (kena dampak), sedangkan secara eksternal akan memberikan dampak pada persepsi anak terhadap sekolah bila sudah berada dilingkungan rumahnya masing-masing. Luar biasanya, untuk daerah yang ber APP rendah seperti Bondowoso, akan sangat membantu orang tua memperoleh pemahaman penting tentang arti pendidikan formal. Anakpun akan semakin giat membantu orang tua dalam kegiatan di rumah.
Ini konsep, karena itu butuh aplikasi. Dapat dijalankan pada lingkungan sekolah yang variatif. Di era pendidikan dengan nuansa demokratisasi seperti Indonesia ini, layak kiranya dijadikan sebagai kegiatan intrakurikuler tambahan. Juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk penilaian diri siswa dalam mengembangkan potensi sesuai dengan yang diharapkan. Mudah-mudahan. (Tetuko J Pamungkas).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes
Tetukoinposting.com: Toko Buku paling terpercaya silakan belanja di http://www.belbuk.com/?ref=1965.